Senin, September 20, 2010
0
PERSOALAN itu muncul setahun setelah kakek meninggal. Usiaku dua belas tahun saat itu, tapi keingintahuanku sangat besar terhadap persoalan rumit yang membuat nenek prihatin dan bersedih, sehingga segala cara aku tempuh walau dengan sembunyi-sembunyi dan main intip, untuk mengetahui persoalan yang sesungguhnya. Aku selalu nguping pembicaraan yang menyangkut masalah itu.

Suatu malam aku berada di dalam kamarku dan dari sebuah lobang kecil pada dinding papan aku mengintip ke ruang tengah, serta memasang kuping untuk bisa mendengarkan percakapan serius antara nenek dan anak-anaknya. Ruang tengah nampak remang-remang. Nyala lampu teplok yang terkurung dalam teropong penuh asap hitam menjadi satu-satunya penerang. Nyalanya redup, sesekali bergoyang-goyang oleh hembusan angin. Meski demikian, aku bisa menyaksikan dengan jelas wajah-wajah di ruangan itu.


Udara sangat dingin; udara dingin yang setia membungkus dukuh yang terletak di ketinggian bukit. Angin berhembus dari lereng gunung Panderman. Pepohonan bergoyang laksana hantu malam mengincar bocah-bocah yang masih bermain petak umpet.

Kulihat nenek duduk dengan angker seperti patung. Wajahnya yang berkerut-kerut, rambutnya yang hampir sepenuhnya memutih, nampak menyeramkan dalam remang-remang cahaya pelita. Nenek menatap wajah-wajah di sekelilingnya. Satu persatu. Aku yakin, tatapan mata nenek memancarkan perasaan sedih. Kulihat tak seorang pun berani melawan tatapan matanya. Buktinya semua orang tertunduk seperti maling dihadapan petugas keamanan. Seandainya waktu itu aku sudah dewasa, pasti aku berdiri di belakang nenek dan membelanya. Aku kasihan pada nenek tercinta yang sudah menjanda, kurus, dan sakit-sakitan. Aku tak habis pikir, kenapa masih ada orang yang tega menyusahkannya.

Bibirnya yang pucat masih terkatup. Sekali-kali ia menarik nafas dalam-dalam, mungkin untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Desahan nafasnya yang diiringi suara seperti gesekan batang bambu terdengar jelas di telingaku.

Waktu seakan merangkak sangat lambat. Aku tidak sabar untuk mendengar keputusan nenek. Aku berharap, nenek menjatuhkan hukuman yang setimpal kepada orang yang menjadi biang keladi kasus yang merugikan bapak dan nenekku.

"Simbok menyesalkan kejadian ini," katanya pelan.

Tak seorang pun berkomentar. Bapak dan ketiga Pakdeku yang duduk mengelilingi nenek tetap menunduk. Sementara dari kandang belakang rumah terdengar kambing mengembek. Lenguhan sapi menyambutnya seperti dikomando.

"Kasan, kenapa kau lakukan itu?" tanya nenek kepada Pakde angkatku dengan nada marah.

Kulihat Pakde Kasan tetap menunduk.

"Jawablah, San." Suara nenek makin memberat dan nadanya kian tinggi. Lalu ia terbatuk-batuk. Aku merinding mendengarnya, walau aku tak turut terlibat kasus itu.

"Karena saya tidak kebagian warisan," jawab Pakde Kasan terkesan gugup.

Nenek, yang biasa dipanggil Simbok, berbatuk-batuk lagi. Aku kuatir keadaannya kian memburuk. Tanpa sadar tanganku mengepal dan amarah menggumpal di dada. Aku makin benci pada Pakde Kasan.

"Semua kebagian. Malah Kang Sarin dapat dua petak. Tapi saya tidak," kata Pakde Kasan memprotes.

"Tapi bukan begitu caranya!" tiba-tiba Sarin, bapakku, menyeletuk. Aku saksikan dengan jelas, tangan bapak mengepal. Bapak pasti jengkel dan marah terhadap Pakde Kasan.

"Diam dulu, Sar," tegur nenek.

Semua terdiam. Hening sejenak. Suasana sangat kaku dan tegang. Aku menahan nafas dan mengendalikan diri agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan. Aku takut jika sampai kegiatanku mengintip dan menguping ini ketahuan. Bapak pasti akan marah; bapakku selalu menasehati, anak kecil tidak boleh turut campur atau mengetahui urusan orang-orang dewasa.

Malam terus merangkak pelan tapi pasti. Angin berhembus kencang. Pakde Ranu merapatkan sarung yang membungkus tubuhnya.

"Kamu anak angkat, San," ujar nenek seperti menghardik. "Usiamu masih terlalu muda saat itu. Belum disunat. Kamu datang ke dukuh ini hanya dengan pakaian yang melekat di tubuh dan sarung kumal. Aku menemukan kamu tidur di gardu ronda. Kamu minggat dari desamu. Katanya kamu nyolong kambing tetangga. Uangnya buat main dadu. Kamu gemar nonton Tayub . Kamu anak bengal dan ndableg ."

Pakde Kasan nampak gelisah. Nampaknya ia tidak suka jika masa kecilnya diungkit-ungkit. Tapi ia tidak mengeluarkan suara apa-apa kecuali mendesah.

"Kamu tak tahu terima kasih." Nenek menyilangkan tangannya dengan posisi bersedekap. "Karena perasaan kasihan, kami memungutmu dan menjadikan anak angkat, lalu kamu disunatkan. Tapi menjelang dewasa kamu minggat setelah menjual dua ekor kambing bapak angkatmu. "Sekarang kamu datang lagi ke dukuh ini untuk bikin perkara."

"Jadi bagaimana, Mbok?" Bapak angkat bicara. Nadanya agak tinggi. "Saya sangat dirugikan, Mbok. Tanaman jagung saya ludes dibabatnya. Padahal dua bulan lagi sudah bisa dipanen. Kasan harus ngasih ganti rugi."

Yah, yah, masalah itu aku sudah tahu. Pakde Kasan datang lagi ke dukuh Toyomerto ini dan merusak tanaman jagung milik bapak. Dia iri terhadap bapak, karena bapak mendapat warisan dari kakek dua petak tanah tegalan, sedangkan Pakde Kasan tidak mendapat sepetak tegalan pun. Pelampiasan dari perasaan iri dan dengkinya adalah membabat tanaman jagung milik bapak.

"Aku ini melarat. Tak punya apa-apa. Sedangkan sampeyan punya kambing, sapi, dan tegalan. Kakang kaya. Dapat warisan dua petak lagi," jawab Pakde Kasan.

"Salahmu sendiri," kata Bapakku.

"Kamu malas, San. Sudah bengal suka nyolong lagi." Rupanya Pakde Ranu terpancing amarahnya.

"Jangan ungkit-ungkit lagi masalah itu!" Paklik Kasan berdiri dan mengepalkan tangannya.

Nenek terbatuk-batuk. Lebih keras. Ia nampak sengsara. Lalu tangannya sibuk memijit-mijit kepala dan bahunya. Rasanya aku ingin menghambur keluar dan menolong memijit bahu nenek. Nenek nampak tertunduk lemas. Ya, Tuhan, tolonglah nenekku, bisikku dalam hati. Sambil terbatuk-batuk, nenek berkata, "Kalian pulanglah. Besok kita datangkan Pak Lurah dan Pak Kamituo . Satu persatu pulang ke rumah masing-masing, kecuali bapak, karena bapak menempati rumah nenek dan bertanggung jawab untuk merawatnya. Aku dan ibu juga turut merawat nenek dengan penuh kesabaran dan sayang.

Malam makin larut. Kutiup lampu teplok dan aku me-ringkuk dalam sarung. Udara kian dingin. Aku menggigil dan sulit memejamkan mata. Aku turut memikirkan jalan keluar dari persoalan rumit itu, walau aku yakin, jika aku mene-mukan jalan keluar itu, pasti tak akan berguna, karena usulan anak kecil tak akan diterima.

Dukuh terpencil itu sangat sepi. Hanya lenguhan sapi atau kambing mengembek yang sekali-kali mengisi kegelapan malam. Jangkrik mengerik di lubangnya. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara kera.

Kamarku bersebelahan dengan kamar nenek dan tempat tidurku merapat ke dinding papan, sehingga aku bisa mendengarkan tarikan nafas nenek. Malam itu aku ingin tidur di samping nenek sambil menjaga kalau-kalau nenek membutuhkan pertolongan. Aku mencemaskan penyakit nenek yang sering kambuh jika menghadapi persoalan. Tapi aku hanya bisa meringkuk menggigil karena udara kian dingin. Kasihan nenekku, bisikku dalam hati, pada usia lanjut ia masih diusik oleh perselisihan anak-anaknya yang bersumber pada persoalan tanah warisan.

Di dukuh itu hanya sedikit yang punya tegalan luas, kakek salah satunya. Tanah tegalannya terdapat di be- berapa tempat. Di lereng bukit Bokong, di pinggir hutan Toyomerto dan satu petak lagi di kaki sebelah timur Gunung Panderman. Sebelum meninggal, kakek mewariskan tanah tegalannya kepada anak-anaknya. Pembagian itu cukup adil. Hanya bapakku yang mendapatkan dua petak. Anak-anaknya yang lain tak ada yang memprotes pembagian ini. Hal Ini dikarenakan bapak yang merawat nenek. Tapi timbulnya kejadian itu sungguh tak disangka-sangka.

"Setelah bertahun-tahun, Kasan kembali lagi. Tak kusangka. Dia selalu bikin perkara." Kudengar nenek menggumam lirih. Timbul keinginanku untuk mengintip, menyaksikan nenek berbaring di atas dipan, mendengar batuknya, dan jika terjadi apa-apa aku akan nekat menghambur ke kamarnya untuk memberikan pertolongan.

"Sudahlah, Mbok. Jangan terlalu dipikir. Besok diselesaikan sama Pak Lurah dan Pak Kamituo. Sekarang Simbok tidur saja. Sudah malam, lho Mbok." Kudengar suara ibuku menghibur nenek. Hatiku lega, karena sudah ada yang menunggui nenek.

"Mbok." Kudengar juga suara bapakku. "Daripada jadi sumber perselisihan antar saudara, saya kembalikan te- galan yang satu petak kepada Simbok. Terserah kepada Simbok bagaimana mengaturnya," lanjutnya bapakku.

Kupikir bapakku bersikap bijaksana, meskipun ia harus kehilangan satu petak tanah tegalan. Aku setuju dengan keputusan bapak dan ini sesuai dengan jalan keluar yang telah kupikirkan. Aku juga percaya pada Pak Lurah, karena aku tahu bahwa Pak Lurah, dimana pun akan bersikap bijaksana dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi di desanya.

* * *

Pada suatu sore yang cerah musyawarah keluarga yang didampingi oleh Pak Lurah dan Pak Kamituo dimulai. Seperti biasanya aku mengambil posisi yang enak untuk mengintip dan menguping pembicaraan. Dalam hati aku berdoa, agar permasalahan ini segera diselesaikan, sehingga nenek tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan keprihatinan.

"Sarin telah mengembalikan satu petak ladang kepada saya," kata nenek. Ucapan itu ditujukan kepada Pak Lurah dan Kamituo.

"Sekarang tinggal mengaturnya. Mbok." Pak Lurah angkat bicara. "Bagaimana pun juga Kasan adalah anak angkat Simbok. Kebengalan Kasan tolong dilupakan dulu. Ia tidak bernasib mujur seperti halnya kakang-kakangnya. Ia tidak punya ladang maupun sawah. Kerjanya hanya buruh tani di desa lain. Seekor kambing pun ia tak punya." Pak Lurah berdehem. Lalu ia melanjutkan titahnya, "Kalau bisa persoalan ini jangan sampai menjadi besar, apalagi kalau sampai jotos-jotosan."

Dalam hati aku sepakat dengan kata-kata Pak Lurah. Meskipun aku sudah berkelahi di belakang SD Inpres dengan teman-teman, tapi aku merasa ngeri jika pakde-pakdeku jotos-jotosan.

"Tapi saya tidak akan memberikan tanah itu kepada Kasan," tukas nenek. Nah, itu betul juga, batinku. Pakde Kasan tak boleh dikasih hati, nanti malah minta jantung. Dia telah melakukan kesalahan yang merugikan bapak dan nenek. Semestinya Pakde Kasan ngasih ganti rugi pada bapak.

"Maksud saya bukan begitu, Mbok," ujar Pak Lurah. "Kalau saya boleh usul, tegalan yang satu petak itu dijual saja. Sebagian uangnya buat Simbok. Simbok sudah tua. Uang itu bisa Simbok pergunakan untuk keperluan Simbok. Yah, untuk beli jamu. Untuk nyandang yang pantas. Kalau perlu untuk berobat di puskesmas atau di Rumah Sakit di kota. Sebagian lagi untuk Sarin. Bagaimana pun juga, Sarin yang merawat Simbok. Juga Sarin yang dirugikan dalam masalah ini. Sebagian lagi untuk Kasan. Biar Kasan bisa beli kambing atau sapi perah. Dan sebagian lagi untuk amal."

"Maksud Pak Lurah?" tanya bapak memotong.

"Simbok sudah tua. Orang tua perlu beramal sebagai bekal di akhirat nanti. Simbok bisa waqafkan sebagian uang hasil penjualan ladang itu untuk perbaikan Langgar," kata Pak Lurah menjelaskan.

Nah, ini bijaksana namanya, kataku dalam hati. Nenek butuh uang untuk berobat. Yah, nenek perlu di bawa ke Puskesmas di kota kecamatan, agar penyakitnya sembuh, agar tidak ngak-ngik lagi tidurnya, agar nenek bisa sering mendongeng tentang kancil, tentang wewegombel. Oh, iya, amal jairiah itu bagus kata ustad Dullah. Untuk bekal di akhirat nanti.

Kulihat nenek manggut-manggut. Sementara bapak dan Pakde Ranu terlihat kurang senang.

"Bagaimana, Mbok?" tanya Pak Lurah.

Suasana hening sejenak. Barangkali masing-masing sibuk dengan pikirannya. Setelah agak lama barulah nenek mengeluarkan keputusannya.

"Ya, saya setuju. Tapi, bagaimana dengan anak-anak saya yang lain?" Nenek mengedarkan pandang kepada anak-anaknya.

Mereka mengangguk. "Jadi semua sudah setuju." Pak Lurah mengambil kesimpulan.

"Lalu bagaimana dengan tanaman jagung saya Pak Lurah?" Bapakku bertanya.

"Nah itu tanggungjawab Kasan. Ia wajib memberikan ganti rugi," kata Pak Lurah sambil memandang ke arah Pakde Kasan.

* * *

Perselisihan itu akhirnya dapat diselesaikan. Sebagai ucapan terima kasihnya, nenek mengirimkan securung pisang dan ayam jago kepada Pak Lurah dan Kamituo. Satu hal yang mententramkan hatinya -- demikian menurutku -- adalah bahwa ia telah beramal menyumbang sebagian hasil penjualan tanah untuk perbaikan langgar, meskipun ia sendiri tidak tahu berapa besar uang yang disumbangkan. Nenek mempercayakannya pada Pak Lurah. Aku membenarkan tindakan nenek ini, karena Pak Lurah cukup bijaksana. Tetapi yang masih menyedihkan hatiku, penyakit nenek tidak juga sembuh. Nenek masih sering batuk-batuk dan aku turut menungguinya, meskipun ibuku melarang, karena aku tidak boleh tidur terlalu malam.

Malam itu nenek nampak terbaring di kamarnya. Ibuku sedang menggoreng kopi di dapur dan bapak pergi entah kemana. Mungkin sedang menghalau kera di ladang.

"Gus, kalau sudah besar nanti, kamu mau jadi apa?" tanya nenek dengan suara lirih. Lalu beliau terbatuk-batuk. Kupijit-pijit pundakknya. Aku menyesalkan, semestinya nenek tidak perlu banyak bicara. "Ingin jadi apa, Gus?" ulang nenek.

"Ingin jadi Lurah, Mbok," jawabku.

"Bagus. Jadilah lurah yang baik dan bijaksana. Lurah yang tidak suka menipu warganya sendiri," pesan nenek. Kata-kata yang keluar dari mulutnya agak tersendat-sendat. Kupikir nenek mesti segera dibawa ke puskesmas, kalau perlu di Rumah Sakit di kota.

Nenek kembali terbatuk-batuk dan aku semakin sibuk memijit-mijit. Lalu nenek memejamkan matanya. Nafasnya lemah sekali. Kukira nenek tidur.

Tiba-tiba telingaku menangkap suara-suara yang datangnya dari ruang tamu. Dengan berjingkat-jingkat aku melangkah ke pintu kamar dan menajamkan pendengaranku.

"Kita harus laporkan pada Simbok!" Itu suara Pakde Ranu.

"Jangan sekarang. Nanti pikiran Simbok kacau. Bisa kambuh lagi sakitnya," kudengar suara lain yang kukenal sebagai suara bapakku.

"Tapi bagaimana? Kita telah ditipu mentah-mentah. Sebagian besar uang hasil penjualan tanah masuk kantong Kasan dan Pak Lurah, serta Pak Kamituo. Simbok kebagian sedikit. Waqaf untuk Langgar hanya seratus ribu. Ternyata tanah itu dijual dengan harga enam juta. Sedangkan yang kita tahu hanya tiga juta!" kata Pakde Ranu terkesan sangat berang.

"Wah! Laknat si Kasan. Terkutuklah Pak Kamituo dan Pak Lurah. Mereka telah bersekongkol untuk menipu!" umpat bapakku.

"Ssttt! Jangan keras-keras. Nanti Simbok dengar," kata Pakde Ranu. Kutatap wajah nenek dengan pandangan iba. Wajah nenek putih pucat dan tak kudengar lagi desahan nafasnya. Dengan terburu-buru aku mendekat.

"Mbok," panggilku keras sambil menggoyang-goyangkan pundaknya. "Mbok, Mbok...Mbok!"

Nenek diam saja.

* * *

0 komentar:

Posting Komentar